STRATEGI PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN

June 10, 2008

STRATEGI  PENGORGANISASIAN 

PEMBELAJARAN

 

Strategi pengorganisasian isi pembelajaran disebut oleh Reigeluth, Bunderson, dan Merrill (1977) sebagai structural strategy, yang mengacu kepada cara untuk membuat urutan ( sequencing ) dan mensintesis (synthesizing) fakta-fakta, konsep-konsep, prosedur, atau prinsip-prinsip yang berkaitan. Sequencing mengacu kepada pembuatan urutan penyajian isi bidang studi dan synthesizing mengacu kepada upaya untuk menunjukkan kepada si-pembelajar keterkaitan antar isi bidang studi itu.

Pengorganisasian pembelajaran secara khusus, merupakan fase yang amat penting dalam rancangan pembelajaran. Synthesizing akan membuat topik-topik dalam suatu bidang studi menjadi lebih bermakna bagi si-belajar (Ausubel,1968) yaitu dengan menunjukkan bagaimana topic-topik itu terkait dengan keseluruhan isi bidang studi. Sequencing atau penataan urutan, amat diperlukan dalam pembuatan sintesis.

 

Strategi  Makro dan Mikro

Strategi pengorganisasian makro diacukan untuk menata keseluruhan isi bidang studi, strategi pengorganisasian mikro diacukan untuk menata sajian suatu konsep, atau prinsip, atau prosedur.

 

A. Strategi Mikro

Teori Gagne dan Briggs,  teori pembelajaran yang dikembangkannya mendeskripsikan hal-hal yang berkaitan dengan:

Kapabilitas Belajar

Lima kapabilitas belajar yang dapat dipelajarai oleh si-belajar, meliputi:

1.       Informasi verbal. Si-belajar telah belajar informasi verbal apabila ia dapat mengingat kembali informasi itu.

2.       Ketrampilan Intektual. Si-belajar akan menggunakan suatu ketrampilan intelektual apabila ia berinteraksi dengan lingkungan simbulnya bahasa dan angka. Ketrampilan Intelektual mencakup lima katagori, yaitu: (1)Diskriminasi; (2)Konsep konkrit; (3)Konsep abstrak; (4)Kaidah; (5)Kaidah tingkat lebih tinggi

3.       Strategi Kognitif. Siswa telah belajar strategi koqnitif apabila ia telah mengembangkan cara-cara untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi proses berfikir dan proses belajarnya.

4.       Sikap. Keadaan mental yang komplek dari si-belajar yang dapat mempengaruhi pelihannya untuk melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya pribadi terhadap orang lain, benda, atau peristiwa.

5.       Ketrampilan Motorik. Si-belajar telah mengembangkan ketrampilan motorik apabila ia telah menampilkan gerakan-gerakan fisik dalam menggunakan bahan-bahan atau peralatan-peralatan menurut prosedur.

 

Gagne dan Briggs mendeskripsikan kondisi belajar yang berbeda untuk setiap katagori kapabilitas. Mereka membedakan dua jenis kondisi belajar yaitu:

1.     Kondisi belajar internal. Mengacu kepada perolehan dan penyimpanan kapabilitas-kapabilitas yang telah dipelajari si-belajar yang mendukung belajar kapabilitas lainnya.

2.     Kondisi belajar eksternal. Mengacu kepada berbagai cara yang dirancang untuk memudahkan proses-proses internal dalam diri si-belajar ketika belajar. ketrampilan motorik apabila ia telah menampilkan gerakan-gerakan fisik dalam

 

Peristiwa Pembelajaran

Teori belajar pengolahan informasi mendeskripsikan bahwa tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Gagne (1985) mengemukakan bahwa tahapan-tahapan ini dapat dimudahkan dengan menggunakan metode pembelajaran yang mengikuti urutan tertentu yang ia sebut dengan “peristiwa pembelajaran”.

Peristiwa pembelajaran ini dibagi menjadi sembilan tahapan yang diasumsikan sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam belajar, yaitu:

1.     Menarik perhatian;

2.     Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada si-belajar;

3.     Merangsang ingatan pada prasarat belajar;

4.     Menyajikan bahan perangsang;

5.     Memberikan bimbingan belajar;

6.     Mendorong unjuk kerja;

7.     Memberikan balikan informative;

8.     Menilai unjuk kerja;

9.     Meningkatkan retensi dan alih belajar.

 

Pengorganisasian Pembelajaran (urutan pembelajaran)

Kini sampai pada inti kajian yaitu mendeskripsikan cara yang diperkenalkan Gagne dalam mengorganisasikan urutan pembelajaran. Pertimbangan terpenting dalam membuat urutan pembelajaran adalah ada tidaknya prasyarat untuk suatu kapabilitas, dan apakah si belajar telah memiliki prasyarat belajar itu.

 

Model Taba : Pembentukan Konsep

Taba(1980) memperkenalkan strategi pengorganisasian pembelajaran tingkat mikro, khusus untuk belajar konsep dengan pendekatan induktif. Strategi yang diciptakannya terdiri dari tiga tahapan sejalan dengan tiga tingkatan proses berpikir yang dikemukakannya. Ketiga tingkatan proses berpikir itu adalah: (1) pembentukan konsep, (2) intepretasi, dan (3) aplikasi prinsip.

 

Pengorganisasian pembelajaran untuk keperluan pembentukan  konsep terdiri dari tiga langkah, yaitu:

1.     Mengidentifikasi contoh-contoh yang relevan dengan konsep yang akan dibentuk.

2.     Mengelompokkan contoh-contoh berdasarkan karakteristik serupa (criteria tertentu) yang dimiliki.

3.     Mengembangkan katagori atau nama untuk kelompok-kelompok itu.

 

Model  Bruner: Pemahaman Konsep

Pembentukan konsep dan pemahaman konsep  merupakan dua kegiatan mengkategorikan yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda pula. Seluruh  kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh ke dalam kelas dengan menggunakan dasar criteria tertentu.

 

Bruner (1980) memandang bahwa suatu konsep memilki lima unsur dan seseorang dikatakan memahami suatu konsep apabila ia mengetahui semua unsur dari konsep itu. Kelima unsure tersebut adalah (1)Nama; (2)Contoh-contoh; (3)Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak; (4)Rentangan karakteristik, dan (5)Kaidah.

 

Menganalisis Strategi Berpikir untuk Memahami Konsep

Bruner (1980) menggunakan istilah strategi yang mengacu kepada urutan keputusan yang dibuat oleh seseorang dalam meneliti setiap keputusan yang dibuat oleh seseorang dalam meneliti setiap contoh dari suatu  konsep. Bruner juga mengembangkan strategi-strategi yang berbeda untuk mencapai jenis konsep yang berbeda. Ada tiga strategi pengorganisasian pembelajaran pemahaman konsep yang telah dikembangkan, yaitu: (1)Model penerimaan; (2)Model pilihan, dan (3)Model dengan contoh yang terorganisasi.

 

1.     Model penerimaan mengacu kepada strategi pengorganisasian contoh-contoh konsep dengan memberi tanda “ya”, bila contoh itu menjadi contoh konsep, dan tanda “tidak”, bila contoh itu bukan contoh konsep.

2.     Model pilihan  mengacu kepada strategi pengorganisasian contoh-contoh konsep tanpa memberi tanda “ya” atau “tidak”.

3.     Model dengan contoh yang terorganisasi mengacu kepada strategi pemahaman konsep dengan menggunakan contoh-contoh yang terorganisasi dalam lingkungan kehidupan yang sesungguhnya.

 

B. STRATEGI MAKRO

Hirarki Belajar

Gagne (1968) menekankan pada penataan urutan dengan memunculkan gagasan prasyarat belajar yang disebut hirarkhi belajar. Reigeluth dalam Degeng (1988) mengemukakan bahwa analisis hirarkhi belajar kurang berarti untuk membuat sintesis. Pendapat ini dipertegas oleh Gagne (1977) bahwa analisis hirarkhi belajar kurang berarti untuk membuat sintesis, dengan demikian untuk mengorganisasi keseluruhan isi bidang studi (strategi makro) perangcang pembelajaran perlu beralih ke strategi lain.

 

Analisa Tugas

Cara lain yang dipakai untuk menunjukkan keterkaitan isi bidang studi  adalah information- processing approach to task analysis Seseorang dapat saja mempelajari langkah terakhir dari suatu prosedur pertama kali, tetapi dalam unjuk kerja ia tidak dapat memulai dari langkah terakhir. Gropeper, Landa, Merrill, Resnick, dan Scandura adalah orang-orang yang pertama kali menekankan pentingnya hubungan jenis ini (information- processing approach to task analysis ) dalam pengorganisasian pembelajran pada tingkat makro.

Sub Sumptife Sequence 

David Ausubel (1968) mengemukakan gagasan, cara membuat urutan sistem pembelajaran yang dapat membuat pembelajaran jadi lebih bermakna, ia menggunakan urutan dari umum ke rinci. Bila pengetahuan baru diassimilasikan dengan pengetahuan yang sudah ada, maka perolehan belajar dan retensi akan dapat ditingkatkan

 

Kurikulum Spiral

Jerome Brunner (1960) menyatakan bahwa a spiral curriculum merupakan pembelajaran tingkat makro, dengan konsep pembelajaran dimulai dengan mengajarkan isi pengajaran secara umum, kemudian secara lebih rinci.

 

Teori Skema

Anderson dkk. (1977) menguatkan pendapat David Ausubel (1968) dengan tori skema, teori Ausubel (1968) memandang proses belajar sebagai pengetahuan baru dalam diri si belajar dengan cara mengaitkannya dengan struktur kognitif yang sudah ada dan hasil belajar sebagai hasil pengorganisasian struktur kognitif yang baru, struktur kognitif yang baru ini akan menjadi asimilatif skema.

 

Webteaching

Norman (1973) mengenai webteaching sebagai prosedur menata urutan isi bidang studi termasuk strategi makro. Prosedur ini menekankan pentingnya peran struktur pengetahuan yang telah dimiliki oleh si belajar dan struktur isi bidang yang akan dipelajari. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillema (1983).

 

Teori Elaborasi

Teori ini mempreskripsikan cara mengorganisasikan pembelajaran dari umum ke rinci, urutan umum ke rinci dimulai dari epitome kemudian mengelaborasi dalam epitome ke lebih rinci.

Komponen Strategi Teori Elaborasi

Menurut Reigeluth dan Stein (1983) ada 7 komponen strategi yang diintegrasikan dalam teori elaborsi, yaitu ; (1) urutan elaboratif; (2) urutan prasarat belajar; (3) rangkuman; (4) synthesis; (5) analogi; (6) pengaktif strategi kognitif; (7) kontrol belajar.

(1)  Urutan elaboratif adalah urutan dari yang sederhana kepada yang komplek atau dari umum ke rinci yang memiliki karakteristik khusus.

(2)  Urutan prasyarat belajar dimaksud adalah sepadan dengan struktur belajar atau herarki belajar yang dikemukakn oleh Gagne (1968).

(3)  Rangkuman adalah tinjauan kembali (review) terhadap apa yang telah dipelajari penting sekali dilakuka untuk mempertahankan ritensi. Review juga sebagai acuan yang mudah diingat untuk konsep, prosedur, atau prinsip yang diajarkan.

 

Terdapat 2 jenis rangkuman yaitu rangkuman internal yang diberikan pada setiap akhir suatu pelajaran dan hanya merangkum isi bidang studi yang baru diajarkan, sedang rangkuman eksternal diberikan setelah beberapa kali pelajaran yang merangkum semua isi yang telah dipelajari dalam beberapa kali pelajaran.

 

(4)  Pensintensis adalah komponen strategi teori elaborasi yang berfungsi untuk menunjukkan kaitan-kaitan diantara konsep-konsep, prosedur-prosedur dan prinsip-prinsip yang diajarkan. Dengan mengkaitkan konsep-konsep ini akan meningkatkan kebermaknaan dengan jalan menunjukkan suatu konsep, prosedur, atau prinsippada bagian yang lebih luas (Ausubel 1968) selain itu juga dapat memberi pengaruh situasional pada si belajar (Keller 1983) juga berpeluang meningkatkan retensi (Quillian 1968). Pensintesis berfungsi untuk menunjukkan keterkaitan diantara konsep, prosedur, atau prinsip yang diajarkan. Komponen strategi ini berpeluang untuk  Memudahkan pemahaman, meningkatkan motivasi dan meningkatkan retensi.

 

(5)   Analogi, menurut Dreistadt (1969) dan Reigeluth (1983) analogi menggambarkan persamaan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang lain yang berbeda diluar cakupan pengetahuan yang sedang dipelajari. Ini membantu pemahaman terhadap pengetahuan yang sukar dipelajari siswa. Makin dekat persamaan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dijadikan analogi, makin efektif analogi itu.

 

(6)  Pengaktif Strategi Kognitif  adalah ketrampilan-ketrampilan yang diberlakukan si-belajar untuk mengatur proses-proses internalnya ketika ia belajar, mengingat dan berpikir (Gagne 1985). Rigney (1978) mengemukakan 2 cara unuk mengaktifkan strategi kognitif yaitu dengan merancang pembelajaran sedemikian rupa sehingga si belajar dipaksa untuk menggunakannya (embeded strategi) dan dengan menyuruh si belajar menggunakannya (detaced strategi).

 

(7)  Kontrol Belajar menurut Merrill (1979) konspsi kontrol belajar mengacu pada kebebasan si belajar dalam melakukan pilihan dan pengurutan terhadap isi yang akan dipelajari (content controll), pace controll, display controll dan cosiuous cognation controll. Dalam kaitan ini si belajar menentukan sendiri isi, urutan, strategi kognitif yang paling cocok baginya untuk digunakan dalam suatu pembelajaran.

 

Model Elaborasi

Prinsip-prinsip Model Elaborasi

1.     Penyajian Kerangka Isi

Menyajikan kerangka isi dengan menunjukan bagian-bagian utama bidang studi dan hubungan-hubungan utama diantara bagian-bagian itu.

2.    Elaborasi Secara Bertahap

Bagian-bagian yang tercakup dalam kerangka isi hendaknya dielaborasi secara bertahap

3.    Penyajian Bagian Terpenting

Penyajian bagian yang terpenting  hendaknya dielaborasi pertama kali

4.    Cakupan Optimal Elaborasi

Kedalaman dan keluasan tiap-tiap elaborasi hendaknya dilakukan secara optimal

5.    Penyajian Pensintesis Secara Bertahap

Pensintesis hendaknya diberikan setelah  setiap kali melakukan elaborasi.

6.    Penyajian Jenis Pensintesis

Jenis pensisntesis hendaknya disesuaikan dengan tipe isi bidang studi

7.    Tahapan Pemberian Rangkuman

Rangkuman hendaknya diberikan sebelum setiap kali menyajikan pensintesis.

 

Langkah-langkah pembelajaran yang diorganisasi dengan Model Elaborasi, meliputi:

1.     Penyajian kerangka isi;

2.     Elaborasi tahap pertama;

3.     Pemberian rangkuman dan síntesis eksternal;

4.     Elaborasi tahap kedua;

5.     Pemberian rangkuman dan sisntesis eksternal;

6.     Elaborasi tahap ketiga;

7.     Mensintesis seluruh isi bidang studi yang telah diajarkan.

 

SUMBER PENDUKUNG KESAHIHAN TEORI ELABORASI

Stuktur Kognitif

Struktur kognitif adalah sebagai struktur organsasional yang ada dalam ingatan seseorang yang mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah ke dalam suatu unit konseptual. Banyak para pakar yang memusatkan perhatiannya pada konsepsi bahwa perolehan dan retensi pengetahuan baru merupakan struktur kognitif yang sudah dimiliki si-pebelajar. Ausubel (198), Anderson, Reynold, Schallert, dan Goatz (1977), Norman, Bobow (1979).

 

Skemata Memiliki Fungsi Asimilatif

Bertumpu pada konsepsi organisasi kognitif, Ausubel mengembangkan suatu model yang lebih eksplisit yang disebut skemata. Sebagai struktur organisasional, skemata berfungsi untuk mengintegrasikan unsur-nsur pengetahuan yang terpisah-pisah, atau sebagai tempat untuk mengkaitkan pengetahuan baru. Skemata memiliki fungsi ganda, yaitu (1) sebagai skema yang mengorganisasikan pengetahuan, dan (2)sebagai kerangka untuk mengaitkan pengetahuan baru.

Mayer (1977) menyebutkan bahwa skemata memiliki fungsi asimilatif. Maksudnya adalah bahwa skemata berfungsi untuk mengasimilasikan pengetahuan baru ke dalam hirarkhi pengetahuan dalam struktur kognitif si-pebelajar. Mayer menggunakan pengurutan asimilatif untuk mengorganisasi pembelajaran, mulai dengan menyajikan informasi yang sangat umum dan inklusif menuju ke informasi yang khusus. Konsepsi dasar mengenai struktur kognitif inilah yang dijasikan landasan teoritik pengembangan teori elaborasi.

 

Pengolahan Informasi Dalam Ingatan

Pengolahan informasi dalam ingatan dimulai dari proses menyandian informasi (encoding), penyimpanan informasi (storage), dan akhirnya pengungkapan kembali (retrieval).

Control Elements, Estes (1972) mengkonsepsikan bahwa informasi diorganisasi di sekitar control elements. Control element tingkat lebih tinggi merangkai element tingkat yang lebih rendah sehinga membentuk suatu struktur hirarkhis yang serupa dengan konsepsi skemata.

Prototypes, Norman dan Bobrow (1979) memandang organisasi ingatan sebagai prototypes yang merupakan struktur representasi dari informasi-informasi yang telah diperoleh yang berfungsi sebagai kerangka untuk mengaitkan informasi baru.

 

Integrasi Teori Elaborasi Dalam Psikologi Kognitif

Teori elaborasi dikembangkan dari teori struktur kognitif dan proses ingatan. Semua komponen strategi yang diintegrasikan ke dalam teori elaborasi bersumber pada konsepsi-konsepsi teori psikologi kognitif.

Dalam teori memory bahwa skemata memberikan kerangka yang amat eksklusif untuk mengasimilasi informasi baru, Ausubel (1968), Mayer (1977), Dansereau (1985). Karakteristik skemata ini disejajarkan dengan format urutan elaboratif dari umum-ke-rinci.

Model elaborasi juga dapat meningkatkan efisiensi perolehan pengetahuan dengan mengaitkan semua pengetahuan baru yang dipelajari ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki si-pebelajar.

Model elaborasi menggunakan kerangka epitome yang menyajikan hubungan-hubungan konseptual isi mata pelajaran. Dengan cara seperti ini si-belajar dapat mengaitkan setiap konstruk dengan sejumlah konstruk lain.

Model elaborasi merinci empat jenis hubungan yang tercakup dalam suatu mata pelajaran yang dituangkan dalam struktur konseptual, struktur prosedural, struktur teoritik, dan struktur belajar. Dalam hal ini struktur belajar dan struktur konseptual dapat dipadankan dengan representasi struktur pengetahuan dalam skemata. Hal penting yang menjadi karakterisitk skemata bahwa skemata berisi information variabel yang berfungsi untuk  memasukkan atau mengaitkan berbagai contoh dari suatu konsep, Rumelhart dan Ortony (1977).

 

Kemudahan Model Elaborasi

Model elaborasi dapat memudahkan proses penyandian dan penyimpanan informasi dengan jalan mengorganisasi pembelajaran dengan cara tertentu sehingga sejalan dengan proses ingatan.

 

Model Pembelajaran Kognitif  dan Model Elaborasi

Landasan kognitif dalam tindakan pembelajaran pertama kali dikatakan oleh Ausubel (1983) kemudian dikembangkan oleh Mayer (1981). Mereka menyatakan:

Teori Instruksional harus secara kognitif. Kegunaan pengembangan dalam psikologi pembelajaran kognitif dan memori harus menjadi bagian dalam teori intruksional secara umum. Semenjak 10 tahun terakhir terjadi ledakan pengetahuan tentang proses kognitif dan struktur memori manusia. Sebuah teori instruksional yang bagus harus mampu mengeksploitasi database yang berguna.

 

Dalam subsuming cognitive structure Ausubel (1968) menyatakan bahwa perolehan dan retensi pengetahuan baru dapat dimudahkan dengan cara mengasimilasikannya ke dalam pengetahuan yang sudah dimiliki oleh si-pebelajar. Dalam model pembelajaran ini Ausubel (1968) mengintegrasikan tiga komponen struktural, yaitu (1) advance organizer, (2)progressive differentiation, (3)integrative reconciliation.

1.     Advance organizer merupakan pernyataan umum yang memperkenalkan bagian-bagian utama dalam urutan pembelajaran yang berfungsi sebagai kerangka konseptualnbagi pengetahuan berikutnya yang lebih rinci dan abstrae. Oleh Ooyce dan Weil (1980) advance organizar berfungsi menjelaskan, mengintegrasikan, dan mengaitkan pengetahuan yang sedang dipelajari dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.

2.     Progressive differentiation merupakan pembelajaran yang dimulai penyajian ide yang paling umum dan inklusif kemudian diikuti dengan penyajian yang bersifat umum ke rinci dalam penyajian yang hirarkhis.

3.     Integrative reconsiliation merupakan suatu usaha untuk mengajarkan kaitan-kaitan di antara konstruk yang sejalan  dengan karakteristik pengorganisasian bidang studi, Joyce dan Weil (1980), Merrill, Kelety, Wilson (1981). kistono, 10 Juni 2008

About these ads

One Response to “STRATEGI PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN”

  1. kistono said

    Ok akan diperhatikan. Thankz for your advice.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: