PEMBELAJARAN

June 10, 2008

 

 

Sering kali guru “tidak habis mengerti” setelah melakukan penilaian harian, tengah semester, apalagi semester hasilnya “jeblog“. Hampir 60% hasil ulangan siswa tidak mencapai KKM. Pada hal ketika proses belajar mengajar berlangsung, tampak siswa mampu mengerjakan latihan-latihan soal, interaksi siswa antar siswa,  siswa dengan guru tampaksangat interaktif sekali, bahkan ketika guru keluar dari kelas setelah jam pelajaran usai “merasa pembelajaran yang baru saja dilaksanakan BERHASIL“.

Setelah dilakukan identifikasi masalah ternyata banyak penyebabnya, antara lain penerapan strategi yang kurang tepat. Sering dijumpai ketika guru melakukan pembelajaran masih terkesan hanya sekadar mentransfer ilmu, kurang memperhatikan “apa yang sudah dikuasai siswa sebagai prasyarat pengetahuan ketika akan menerima pelajaran (konsep, topik) yang baru”.

Guru masih seringkali  menganggap bahwa ketika belajar “siswa tidak memiliki apa-apa, seolah-olah seperti kertas putih yang akan ditulisi“. Pada hal sebenarnya siswa telah memilki pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari belajar sebelumnya, pengalaman sehari-hari. Apalagi sistem penyusunan kurikulum kita bersistem spiral. Mungkin saja materi yang akan disampaikan sedikit banyak sudah disampaikan ketika masih belajar pada jenjang sebelumnya.

Terkesan Guru kurang telaten dalam memberikan catatan-catatan pada penggalan konsep berupa rangkuman, catatan penting, sehingga pada tahapan penguatan (tahapan yang menentukan) berlalu begitu saja, sehingga siswa pe-belajar kurang mendapatkan kesan yang mendalam.

Berkaitan dengan permasalahan yang telah dipaparkan, berikut disampaikan beberapa pendapat tentang proses belajar dengan harapan dapat memberikan gambaran kepada Guru yang mengalami kesulitan “kehabisan pikir” ketika mendapati kegagalan.

PROSES dan  FASE BELAJAR 

Definisi Proses Belajar

Fase-Fase dalam Proses Belajar

1.      Fase informasi (tahap penerimaan materi).

2.      Fase transformasi (tahap pengubahan materi).

3.      Fase evaluasi (tahap penilaian materi).

Menurut Wittig (1981) dalam bukunya Psychology of Learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga tahapan. Acquiaition (tahap perolehan/penerimaan informasi).Storage (tahap penyimpanan informasi). Retrieval  (tahap mendapatkan kembali informasi).

Rekayasa Pembelajaran digambarkan sebagai berikut:

(1)         Guru sebagai pendidik melakukan rekayasa pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku.

(2)         Siswa sebagai pembelajar di sekolah memiliki kepribadian, pengalaman, dan tujuan. Ia mengalami perkembangan jiwa, sesuai asas emansipasi dini menuju keutuhan dan kemandirian.

(3)         Guru menyusun desain instruksional untuk membelajarkan siswa.

(4)         Guru menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar

(5)         Guru bertindak mengajar di kelas dengan maksud membelajarkan siswa. Dalam tindakan tersebut, guru menggunakan  asas pendidikan maupun teori    belajar.

(6)         Siswa bertindak belajar, artinya mengalami proses dan meningkatkan kemampuan mentalnya.

(7)         Dengan berakhirnya suatu proses belajar  maka siswa memperoleh suatu hasil belajar.

 

Belajar Menurut Pandangan Skinner

Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang

belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak  belajar

maka responsnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut:

(i)         kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons pebelajar,

(ii)                respons si pebelajar, dan

(iii)               konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut.

Pemerkuat terjadi pada  stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons si pebelajar yang baik diberi hadiah. Sebaliknya, perilaku respons yang tidak baik diberi teguran, dan hukuman.

Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan Teori Kondisioning Operan sebagai berikut:

(1) mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positf atau negatif. Perilaku positif akan diperkuat dan perilaku negatif diperlemah atau dikurangi. (2)  membuat daftar penguat positif. Guru mencari perilaku yang lebih diaukai oleh  siswa, perilaku yang kena hukuman, dan. kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat. (3) memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya.(4)membuat program pembelajaran. Program pembelajaran ini berurutan perilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu. wempelajari perilaku, dan evaluasi.

 

Belajar Menurut Gagne

Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai.

1)            Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk       berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan       lambang.

2)            Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

3)            Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak      jasmani dalam urutan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak      jasmani.

4)            Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan       penilaian terhadap obyek tersebut.

 

Belajar Menurut  Piaget

Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang. Perkembangan intelektual melalui tahap-tahap (1) sensor motor, (2) pra-operasional, (3) operasional konkret, dan (4) opera formal. Pada tahap sensori motor anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik dan motorik dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan dan menggerak-gerakannya.

 

Belajar Menurut Rogers

Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pengajaran. Prinsip pendidikan dan pembelajaran tersebut sebagai berikut:

(1)         Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.

(2)         Pengorganiasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan      dan ide baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.

(3)         Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar, keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dengan melakukan pengubahan diri terus-­menerus.

(4)         Belajar yang optimal akan-terjadi, bila siswa berpartisipasi secara  bertanggung jawab dalam proses belajar.

Rogers mengemukakan saran tentang langkah-langkah, pembelajaran yang perlu dilakukan oleh guru. Saran pembelajaran itu meliputi hal berikut:

1.      Guru memberi kepercayaan kepada kelas agar kelas memilih belajar secara terstruktur.      

2.      Guru dan siswa membuat kontrak belajar.

3.      Guru menggunakan metode inkuiri, atau belajar menemukan! (discovery learning).

4.      Guru menggunakan metode simulasi.

5.      Guru mengadakan latihan kepekaan agar siswa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi dengan kelompok lain.

6.      Guru bertindak sebagai fasilitator belajar.

 

Tujuan Belajar dan Pembelajaran

Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek,  yaitu dari siswa dan dari guru. Dari segi siswa, belajar dialami. sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Saran pembelajaran sebagai berikut:

1)            Guru yang membuat desain instruksional memandang siswa sebagai partner  yang memiliki asas emansipasi diri menuju kemandirian.

2)            Siswa memiliki latar pengalaman dan kemampuan awal dalam proses pembelajaran.

3)            Tujuan pembelajaran dalam desain instruksional dirumuskan oleh guru   berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

4)            Kegiatan belajar-mengajar merupakan tindak pembelajaran guru di kelas.

5)            Proses belajar merupakan hal yang dialami oleh siswa suatu respons terhadap segala acara pembelajaran yang diprogramkan oleh guru.

6)            Perilaku siswa merupakan hasil proses belajar. Perilaku tersebut dapat berupa perilaku yang tak dikehendaki dan yang dikehendaki.

7)            Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengajaran dan dampak pengiring.

8)            Setelah siswa lulus, berkat hasil belajar, siswa menyusun program belajar sendiri.

 

Dinamika Siswa dalam Belajar

Siswa yang belajjar berarti menggunakan kemampuan: kognitif, afektif, dan psikomotorik terhadap lingkungannya. Bloom, Krathwohl, dan Simpson. Mereka menggolongan perilaku (kategori perilaku) berkenaan dengan kemampuan internal dalam hubungannya dengan tujuan pengajaran. Bloom dan kawan-kawan mengategorikan jenis perilaku hasil belajar, sebagai berikut:

 

Ranah kognitif (Bloom dkk.) terdiri dari enam jenis perilaku, yaitu:

1)      Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip,

2)      Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.

3)      Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya meng­gunakan prinsip.

4)      Analisa, mencakup kemampuan merinci, suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan. baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.

5)      Sintesis, mencakup kemampuan-membentuk suatu pola baru Misalnya kemampuan menyusun suatu program kerja.

6)      Evaluasi, mencakup kemampuan, membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya, kemampuan menilai hasil karangan.

 

Ranah afektif (Krathwohl & Bloom, dkk.) terdiri dari lima perilaku-perilaku sebagai berikut:

1)      Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut.

2)      Partisipasi, yang mencakup. kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.

3)      Penilaian dan penentuan sikap, dan penentuan sikap, yang mencakup menerima suatu nilai, menghargai, mengakui, dan menentukan sikap 

4)      Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk.suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.

5)      Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.: Misalnya kemampuan mempertimbangkan dan menunjukkan tindakan yang berdisiplin.

 

Ranah psikomotor (Simpson) terdiri dari tujuh jenis perilaku, sebagai berikut:

1)      Persepsi, yang mencakup kemampuan memilah-milahkan (mendes­kriminasikan) hal-hal secara khas, dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut.

2)      Kesiapan, yang mencakup kemampuan penempatan diri dalam keadaan di mana akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini mencakup jasmani dan rohani.

3)      Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh, atau gerakan peniruan.

4)      Gerakan yang terbiasa, mencakup kemampuan melakukan gerakan-gerakan tanpa contoh..

5)      Gerakan kompleks, yang mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap, secara lancar, efisien, dan tepat.

6)      Penyesuaian pola gerakan, yang mencakup kemampuan meng­adakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan per­syaratan, khusus yang berlaku.

7)      Kreativitas mencakup kemampuan melahirkan pola gerak-gerak yang baru atas dasar prakarsa sendiri.

Siswa yang belajar berarti memperbaiki kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dengan meningkatnya ke­mampuan-kemampuan tersebut maka keinginan, kemauan, atau perhatian (motivasi instrinsik) pada lingkungan sekitarnya makin bertambah.

Dari segi siswa, maka bila siswa memiliki motivasi berprestasi dan motivasi intrinsik, diduga siswa akan berusaha belajar segiat mungkin. Pada motivasi intrinsik, ditemukan sifat perilaku berikut:

(1) Kualitas keterlibatan siswa dalam belajar sangat tinggi; hal ini berarti guru hanya memelihara semangat.

(2) Perasaan dan keterlibatan ranah afektif tinggi; dalam hal ini guna memelihara keterlibatan belajar siswa.

(3) Motivasi intrinsik bersifat memelihara diri sendiri. Dengan ketiga. sifat tersebut, berarti guru harus memelihara, keterlibatan siswa dalam belajar. Salam, sukistono.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: